Undangan Haji Format Word | Word 02

Masih dalam format Word, berikut adalah desain undangan untuk undangan haji, dengan dimensi kertas A3 sangat sederhana dan untuk kemasan / cara lipat silahkan disesuaikan sendiri.

Untuk lengkapnya silahkan download, untuk ukuran sudah disetting sedemikian rupa, anda tinggal mengedit isi yang perlu disesuaikan.


Links download : http://downloads.ziddu.com/download/25164636/02.zip.html

(goes)
Share:

Undangan Pernikahan Format Word | Word 01

Undangan berikut didesain sangat sederhana, tapi demikian undangan pernikahan ini sangat elegan, anggun dan cocok untuk teman sejawat dan kolega.

Dengan dimensi 10 X 17 cm yang dikemas oleh plastik pembungkus, undangan ini sangat indah dan untuk kertas memakai  ukuran F4 yang dibelah menjadi dua.


Untuk lengkapnya silahkan download, untuk ukuran sudah disetting sedemikian rupa, anda tinggal mengedit isi yang perlu disesuaikan.

Links download : http://downloads.ziddu.com/download/25158181/001.zip.html

(goes)

Share:

Kisah Nyai dan Para Lelaki Kolonial yang Kesepian

SETIAWATI masih hapal riwayat hidup leluhurnya itu. Secara diam-diam, kisah tersebut selalu tersampaikan dari generasi ke generasi di kalangan keluarga besarnya, sebagai “kenangan pahit” yang tidak boleh terulang lagi. “Mungkin saat itu situasinya memang tak terelakan, takdir Tuhan harus berlaku demikian kepada nenek buyut saya,” ujar perempuan kelahiran Jakarta 55 tahun lalu tersebut.

Sarima, nama nenek buyut Setiawati, adalah seorang nyai. Itu adalah istilah yang ditujukan kepada seorang perempuan pribumi yang dijadikan pasangan hidup seorang lelaki kulit putih tanpa suatu ikatan pernikahan. “Sekalipun di Eropa moral Kristen menuntut penahanan nafsu seksual di luar pernikahan, ideologi di Hindia Belanda membolehkan seorang lelaki mencari jalan keluar bagi kebutuhan-kebutuhan seksnya…” tulis Tineke Hellwig dalamCitra Kaum Perempuan di Hindia Belanda.
Seorang lelaki Belanda dengan nyai dan anak mereka. Foto: KITLV
Terlebih, lanjut Tineke, anggapan umum saat itu menyebut bahwa iklim tropis serta makanan kaya bumbu pedas mendorong munculnya libido para lelaki Eropa yang bermukim di tanah Hindia Belanda. “Pendapat-pendapat tersebut seolah menjadi pembenar terjadinya praktek pergundikan dan pelacuran yang dilakukan mereka…” ujar doktor sastra Indonesia dari Universiteit Leiden, Belanda itu.
Hampir senada dengan penilaian Setiawati dan Tineke, penulis sejarah kolonial asal Belanda Reggie Baay, menyebut kuputusan seorang lelaki kolonial “mengambil” seorang nyai, merupakan gejala umum dan seolah sesuatu hal yang bisa diterima oleh banyak orang kala itu. Jika pada awal-awal kolonialisme terpancangkan di tanah Hindia Belanda sistem perbudakan adalah suatu keniscayaan, maka selanjutnya sistem pergundikan dengan seorang perempuan pribumi merupakan pemecahan masalah dari “rasa kesepian” para lelaki kulit putih lajang.
“Terdapat lebih dari setengah jumlah keseluruhan laki-laki Eropa di koloni yang hidup bersama seorang gundik pribumi dalam 25 tahun terakhir pada abad ke-19,” ungkap Reggie dalam Nyai dan Pergundikan di Hindia Belanda.
Terciptanya “konsep nyai” juga tidak terlepas dari perbedaan kelas: superioritas kulit putih atas kulit coklat, dominasi penjajah terhadap pihak terjajah. Situasi tersebut berkelindan dengan sikapnrimo yang dipelihara dengan setia oleh sebagian besar para bumiputera. Tidak usah jauh-jauh, sebagai contoh adalah kasus yang dialami oleh Sarima sendiri sekitar era 1920-an. Sebagai seorang buruh pemetik teh yang miskin di Garut, ia harus “pasrah” saat tuan adminsitratur “menginginkan dirinya”. Kendati saat itu, Sarima telah memiliki seorang suami.
“Dalam hal ini, pemberian sejumlah uang (kepada pihak keluarga perempuan atau suami perempuan tersebut) kerap dilakukan,” ujar Reggie.
Bahkan, pada kasus lain, seorang Njai juga bisa “dialihkan” kepada lelaki Eropa lain. Kasus-kasus seperti itu biasanya terjadi di tangsi-tangsi tentara. Seperti dialami oleh Marie (nyai yang berasal dari Purworejo) dan Enjtih (nyai yang berasal dari Cimahi). Pengalihan itu biasanya terjadi karena pihak lelaki sudah mulai jenuh atau akan dipindahtugaskan ke tempat lain. Lantas bagaimana status hukum anak-anak yang lahir dari hubungan sejenis itu?
Menurut Tineke Hellwig, sejatinya seorang nyai tidak memiliki hak apa pun, baik terhadap dirinya maupun atas anak-anak yang dilahirkannya. Karena itu, ia harus siap dicampakan oleh “pasangannya” termasuk tidak diberi imbalan apapun. “ Kadang-kadang sebelum mencampakan para nyai tersebut, para lelaki itu menyerahkan anak-anak mereka ke rumah yatim piatu,” ujar lektor kepala di University of British Columbia, Kanada tersebut.
Tentunya tidak semua nyai bernasib buruk. Ada juga di antara mereka yang dicintai betul-betul oleh pasangannya hingga (setelah mendapatkan beberapa anak) dinikahi dan didaftarkan sebagai istri yang sah secara hukum. Itu dialami oleh dua orang nyai bernama Gouw Pe Nio dan Djoemiha. Alih-alih diperlakukan sewenang-wenang, mereka malah hidup bahagia sampai mati bersama para lelaki Eropa tersebut.
Sumber; http://historia.id/budaya/kisah-nyai-dan-para-lelaki-kolonial-yang-kesepian
Share:

Fosil Mirip Ponsel Berumur 800 Tahun

Seorang arkeolog telah menemukan sebuah benda mirip ponsel di daratan Austria. Benda tersebut diperkirakan telah berumur 800 tahun.

Seperti dilansir situs Daily Mail, pada objek mirip ponsel tersebut, terdapat tombol-tombol dan aksara layaknya sebuah ponsel sungguhan. Sekilas, benda ini cukup mirip dengan ponsel-ponsel yang diproduksi Nokia.


Berdasarkan keterangan para ahli artefak, aksara yang tertera pada benda tersebut memiliki gaya penulisan Sumeria yang telah ada selama ribuan tahun. Jenis tulisan ini biasanya ditemukan di Iran atau Irak modern (Mesopotamia kuno).



Karena itu, penemuan objek ini masih menjadi perdebatan. Beberapa ahli masih meragukan benda mirip ponsel tersebut didapatkan dari hasil penggalian artefak. Mereka bahkan menyebut temuan tersebut sebagai tipu muslihat yang rumit.

Minimnya informasi mengenai penggalian itu dan miripnya objek tersebut dengan ponsel Nokia membuat banyak orang menyebutnya berita bohong alias hoax. Namun, kelompok pemburu UFO mengklaim penemuan itu sebagai bukti alien pernah mengunjungi bumi atau menjadi bukti perjalanan antarwaktu benar-benar ada.
Saluran YouTube Paranormal Crucible mengunggah video yang mengatakan "Apa ini? Apa ini bukti peradaban maju atau perjalanan antarwaktu?"

Sumber:http://m.republika.co.id/berita/internasional/global/15/12/31/o07pi4366-benda-mirip-ponsel-berumur-800-tahun-ditemukan-di-austria
Share:

Dibalik Wanita Berhijab Yang Pegang Babi

Bagi umat islam, babi adalah binatang yang diharamkan. Jangankan untuk memakannya, untuk mendekatinya bahkan memegangnya saja bisa membuat najis, karena babi biasanya hidup di tempat yang kotor.

Tapi pernahkah Anda melihat foto yang menjadi viral sekitar tahun 2007, di mana ada seorang wanita berhijab memegang dan memeluk babi? Wanita tersebut mendapat banyak sekali hujatan dan cemoohan.

Tetapi lebih dari 8 tahun lamanya, wanita tersebut diam dan tidak melakukan klarifikasi atas fotonya tersebut. Tapi beberapa waktu lalu, muncul pengakuan yang sebenarnya dari wanita berhijab ini, seperti apa?

Secara ringkasnya, wanita tersebut mengatakan jika foto-fotonya tersebut adalah koleksi peribadi, yang telah disebarluaskan oleh pihak tidak bertanggungjawab.

Banyak yang tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, dan mengapa ia rela memegang hewan yang diharamkan ini. Padahal, saat itu ia tengah mengambil kuliah di jurusan Kedokteran Hewan.

Sehingga mau tidak mau, ia harus berurusan dengan hewan-hewan, termasuk anjing, kucing, bahkan babi. Ia juga terpaksa diam selama lebih dari 8 tahun lamanya. 


"Selama 8 tahun saya hanya berdiam diri dengan cemoohan, cacian, fitnah, bahkan yang mengatakan murtad, penghinaan kepada ibu dan ayah yang telah membesarkan saya dan ada yang memberikan ancaman dan sebagainya..," ucap wanita tersebut di akun Facebooknya yang kami kutip dari siakapkeli.my.

Ia juga menambahkan, jika mengambil jurusan tersebut, harus mau untuk berinteraksi dengan semua hewan.

"Harap maklum, dokter hewan harus tahu semua jenis hewan dan untuk mengkaji penyakit-penyakit yang mungkin menjangkiti hewan dan manusia," tambahnya.

Dipenghujung postingannya, ia mengatakan:" Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita semua. Aamiin.."

Sumber:  http://www.beritauaja.com/2015/12/cerita-di-balik-wanita-berhijab-ini.html

Share:

Perawatan Gigi Dan Mulut Berkat Minyak Nabati

Gigi dan mulut setiap saat dan setiap waktu terus melakukan aktifitas untuk mengunyah makanan dan segala jenis minuman. Hal ini akan berakibat bahwa gigi dan mulut terkena dampak yang tidak baik karena selalu terkontaminasi oleh makanan yang dikonsumsi.

Menurut penellitian / studi modern menunjukan bahwa dengan perawatan gigi dan mulut dengan menggunakan minyak nabati atau yang disebut dengan oil pulling sangat efektif.

Teknik pengobatan oil pulling ini dapat mengeluarkan racun dari mulut serta membersihkan gigi juga gusi dengan kandungan minyak tersebut. Berkumur dengan minyak masak organik seperti minyak kelapa, minyak biji anggur, minyak almond, atau minyak zaitun setiap hari dapat meremajakan sel-sel, juga “menarik” racun keluar dari dalam mulut, dikutip dari laman Dental Implants Info, Kamis (24/12/2015). 


Terdapat dua teknik untuk melakukan perawatan dengan oil pulling yaitu:
  1. Kavala dilakukan dengan mengisi mulut dengan minyak nabati dan menahannya di dalam selama 3-4 menit dan diulang sebanyak dua atau tiga kali.
  2. Metode kedua ialah gandusa, dengan cara berkumur selama 3-5 menit dan kemudian meludahkannya. 
 Semoga bermanfaat. (goes)
Share:

Fans Page