Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan

Puasa Bagi Anak-Anak | Obrolan Kang Trubus

"Kulanuwun..." Kang Sutris memberi salam setelah sampai di depan pintu rumah Kang Trubus.

"Mangga... Mari masuk Kang Tris" sahut Kang Trubus mempersilakan masuk Kang Sutris.

"Tidak usah Kang, di sini saja di teteras lebih adem", jawab Kang Sutris.

"O.. Ya mangga silakan duduk." Kang Sutris yang membawa stof map di gulung dipersilakan duduk di teras rumah karena menolak masuk.

"Ada apak kang kelihatannya ada yang mau disampaikan?" lanjut Kang Trubus.

"Ini, saya ada tugas dari pak RT memintai sumbangan untuk acara bulan depan" jelas Kang Sutris.

"Jadi sudah mulai penggalangan dana to?" tanga Kang Trubus sambil merogoh kantiong sakunya ikut berpartisipasi dalamg acara yang akan digelar bulan depan tepatnya setelah Hari Raya Idul Fitri.

"Iya kang biar tidak buru-buru," sahut Kang Sutris.

Tiba-tiba dari balik pintu muncul Karto anak ragil Kang Trubus yang berusia 9 tahun sedang menyantap es krim. Tatapan mata Kang Sutris berubah agak aneh sambil memperhatikan Karto.

"Maaf kang, omong-omong si Karto tidak puasa? Ini kan bulan Ramadhan bulan mulia?" Akhirnya ga tahan juga Kang Sutris menahan pernasarannya. Mengapa Karta anak bungsu Kang Trubus tidak puasa, sedangkan Kang Trubus dikenal taat dalam beragama.

"O... itu. Kemarin sudah hari pertama satu hari penuh," jawab Kang Trubus enteng.

"Tapi sekarang ko tidak, apa tidak berdosa ? Anak saya si Jino saya paksa untuk terus puasa. Itung-iitug untuk latihan jika sudah dewasa." Kang Sutris masih pada pendiriannya bahwa anak kecil disuruh belajar puasa sejak dini.

"Begini ya Kang, kenapa si Karto tidak saya suruh puasa. Usia anak-anak merupakan usia masa pertumbuhan,  memaksakan anak-anak berpuasa saat usia 8 atau 9 tahun dan mereka berpikiran itu perbuatan yang berpahala padahal yang demikian adalah perbuatan aniaya." Berusaha Kang Trubus menjelaskan.

"Tapi Kang... Bukankah lebih baik mengajarkan untuk beribadah sejak kecil?" lanjut Kang Sutris.

"Betul, banyak ibadah yang bisa diajarkan untuk anak-anak tanpa mengganggu masa pertumbuhan yang berdampak pada keadaan jasmaniahnya, contohnya tersenyum. Tersenyum biarpun hal sepele termasuk ibadah yang jika diajarka pada anak-anak akan menanamkan sikap saling menghargai dan saling mengasihi." Kang Sutris menangguk-angguk tanda mulai mengerti.

"Jadi merupakan tanggung jawab orang tua untuk mencegah anak-anak mereka yang masih kecil berpuasa. Nantinya, ada masanya setelah anak mereka bertumbuh besar, para orang tua ini harus mendorong anak-anak tersebut untuk berpuasa selama beberapa hari, yang pada akhirnya satu bulan penuh setelah usia mencukupi." lanjut Kang Trubus.

"Jadi bagaimana cara mengajarkan anak berpuasa tanpa membebani itu kang?" Kang Sutris masih penasaran pada pendapat Kang Trubus yang agak berbeda dengan kebanyakan pendapat orang-orang tua pada umumnya.

"Sebagai bahan latihan bisa dengan memperhitungkan batasan usia anak juga kang, contohnya yang saya ajarkan pada anak-anak,

Usia 7-8 tahun : jika dapat berpuasa 1 hari
Usia 8-9 tahun : berpuasa 1 hari
Usia 9-10 tahun : berpuasa 2 hari
Usia 10-11 tahun : berpuasa 5 hari
Usia 11-12 tahun : berpuasa 7 hari
Usia 12-13 tahun : berpuasa 10 hari
Usia 13-14 tahun : berpuasa 15 hari
Usia 14-15 tahun : berpuasa 20 hari
Usia 15-16 tahun : berpuasa sebulan penuh

In Sya Allah dengan latihan sesuai batasan umur seperti itu tidak akan membebani dan tidak akan berpengarus pada tumbuh kembang anak." Dengan rinci Kang Trubus menjelaskan bagaimana menerapkan latihan puasa Ramadhan pada anak-anak.

"Iya paham kang, Matur Nuwun wejangane sampean. Mudah-mudahan barokah Dunia Akhirat." Merupakan pengetahuan yang sangat berharga bagi Kang Sutris atas obrolan dengan Kang Trubus.

"Kalau begitu saya permisi pamit dulu mau melanjutkan tugas," Kang Sutris berpamitan untuk melanjutkna tugas yang diembankan oleh atasannya.


Sampit, 24 April 2020

Share:

Mudik Vs Pulang Kampung | Obrolan Kang Trubus

Seperti biasa selepas Ashar Kang Trubus sedang menikmati secangkir kopi pahit racikan Yu Darmi. Bukan karena di rumah tidak dibuatkan kopi oleh istrinya tapi memang kebiasaan Kang Trubus yang secara tidak langsung memberikan pemasukan perekonomian keluarga Yu Darmi. Karena suaminya sudah lama dipundut Gusti Allah.

"Assalamualikum Kang, sudah duluan nongkrong di sini rupanya," ucapan kang Parto mengagetkan.

"Waalaikumsalam, mari ngopi sama-sama tapi ingat 2 meter jaraknya" timpal Kang Trubus mengingatkan untuk tidak duduk terlalu dekat. Meski di kampung mereka taat pada himbauan pemerintah untuk tetap jaga jarak selagi wabah Covid 19 masih merebak.

"Bagaimana kabar si Kusno di kota?" Kang Parto menanyakan anak mbarepnya Kang Trubus.

"Si Barep lebaran ini tidak pulang. Ikuti himbauan pemerintah untuk tidak mudik," Kang Trubus menjelaskan.

"Sekarang itu lagi rame kang, antara mudik sama pulang kampung, terus apa bedanya mudik sama pulang kampung. Pak Jiokowi kok ngendika boleh pulang kampung tapi tidak boleh mudik?"Penasaran dengan pemahaman mudik dan pulang kampung Kang Parto akhirnya menanyakan ke Kang Trubus apa bedanya. Karena kebetulan lagi mbahas si Mbarep yang tidak bisa pulang pada lebaran nanti.

"O. . . . . itu to" Kang Trubus sambil menyeruput kopi mengangguk-anggukan kepalanya tanda paham apa yang ditanya Kang Parto.

"Begini ya kang... Mudik dan pulang kampung memang sama-sama pulang ke kampung halaman tapi mempunyai pemahaman yang berbeda." 

"Beda bagaimana kang ?" sela Kang Parto tak sabaran.

"Jika mudik itu berpangkal pada Hari Raya. kepulangan yang dari kota atau luar daerah bermaksud merayakan Hari Raya bersama keluarga besarnya di kampung halaman. Setelah Hari Raya selesai maka mereka akan berangkat ke kota asalnya atau keluar daerah di mana mereka bekerja. Jadi pada prinsipnya pemaknaan mudik hanya pulang sebentar menjelang Hari Raya setelah itu berangkat lagi." sambil menarik nafas Kang Trubus  membetulkan posisi duduknya cari yang nyaman.

"Sedangkan pulang kampung yaitu para pekerja di kota dalam situasi wabah begini tidak adanya lagi pekerjaan atau kena PHK bermaksud pulang ke kampung halaman, untuk meneruskan hidup di kampung dan sudah tidak ada minat lagi ke kota. Dalam kondisi begini pemerintah membolehkan mereka untuk pulang kampung seperti ngendikane pak Jokowi. Dari pada di kota tidak ada kegiatan, atau terkena PHK dan lain sebagainya lebih aman pulang kampung. Itu maksudnya beda mudik sama pulang kampung" jelas Kang Trubus.

"O... Jadi jadi begitu pemahaman mudik sama pulang kampung to kang, ngerti aku nek ngono..."

"Nah gitu to kang pinter sitik..." Yu Darmi dari dalam warung ikut menimpali.

"Iyo yu... Ngerti aku siki." jawab Kang Parto.

"Ya sudah aku pulang dulu yu, uangnya di bawah gelas." Kang Trubus pamitan pulanh setelah panjang lebar ngobrol sama Kang Parto. 

Sampit, 23 April 2020
Share:

Anaku Rangking 23

Di kelasnya ada 25 orang murid, setiap kenaikan kelas, anak perempuanku selalu mendapat ranking ke-23.

Lambat laun ia dijuluki dengan panggilan nomor ini. Sebagai orangtua, kami merasa panggilan ini kurang enak didengar, namun anehnya anak kami tidak merasa keberatan dengan panggilan ini.

Pada sebuah acara keluarga besar, kami berkumpul bersama di sebuah restoran. Topik pembicaraan semua orang adalah tentang jagoan mereka masing-masing.


Anak-anak ditanya apa cita-cita mereka kalau sudah besar? Ada yang menjawab jadi dokter, pilot, arsitek bahkan presiden. Semua orangpun bertepuk tangan.

Anak perempuan kami terlihat sangat sibuk membantu anak kecil lainnya makan. Semua orang mendadak teringat kalau hanya dia yang belum mengutarakan cita-citanya.

Didesak orang banyak, akhirnya dia menjawab:

"Saat aku dewasa, cita-citaku yang pertama adalah menjadi seorang guru TK, memandu anak-anak menyanyi, menari lalu bermain-main".

Demi menunjukkan kesopanan, semua orang tetap memberikan pujian, kemudian menanyakan apa cita-citanya yang kedua.

Diapun menjawab :

“Saya ingin menjadi seorang ibu, mengenakan kain celemek bergambar Doraemon dan memasak di dapur, kemudian membacakan cerita untuk anak-anakku dan membawa mereka ke teras rumah untuk melihat bintang”.

Semua sanak keluarga saling pandang tanpa tahu harus berkata apa. Raut muka suamiku menjadi canggung sekali. Sepulangnya kami kembali ke rumah, suamiku mengeluhkan ke padaku, apakah aku akan membiarkan anak perempuan kami kelak hanya menjadi seorang guru TK?

Anak kami sangat penurut, dia tidak lagi membaca komik, tidak lagi membuat origami, tidak lagi banyak bermain. Bagai seekor burung kecil yang kelelahan, dia ikut les belajar sambung menyambung, buku pelajaran dan buku latihan dikerjakan terus tanpa henti.

Sampai akhirnya tubuh kecilnya tidak bisa bertahan lagi terserang flu berat dan radang paru-paru. Akan tetapi hasil ujian semesternya membuat kami tidak tahu mau tertawa atau menangis, tetap saja rangking 23.

Kami memang sangat sayang pada anak kami ini, namun kami sungguh tidak memahami akan nilai sekolahnya.

Pada suatu minggu, teman-teman sekantor mengajak pergi rekreasi bersama. Semua orang membawa serta keluarga mereka. Sepanjang perjalanan penuh dengan tawa, ada anak yang bernyanyi, ada juga yang memperagakan kebolehannya.

Anak kami tidak punya keahlian khusus, hanya terus bertepuk tangan dengan sangat gembira.

Dia sering kali lari ke belakang untuk mengawasi bahan makanan.

Merapikan kembali kotak makanan yang terlihat sedikit miring, mengetatkan tutup botol yang longgar atau mengelap wadah sayuran yang meluap ke luar. Dia sibuk sekali bagaikan seorang pengurus rumah tangga cilik. Ketika makan, ada satu kejadian tak terduga. Dua orang anak lelaki teman kami, satunya si jenius matematika, satunya lagi ahli bahasa Inggris berebut sebuah kue.

Tiada seorang pun yang mau melepaskannya, juga tidak mau saling membaginya. Para orang tua membujuk mereka, namun tak berhasil.

Terakhir anak kamilah yang berhasil melerainya dengan merayu mereka untuk berdamai. Ketika pulang, jalanan macet. Anak-anak mulai terlihat gelisah. Anakku membuat guyonan dan terus membuat orang-orang semobil tertawa tanpa henti.

Tangannya juga tidak pernah berhenti, dia mengguntingkan berbagai bentuk binatang kecil dari kotak bekas tempat makanan.

Sampai ketika turun dari mobil bus, setiap orang mendapatkan guntingan kertas hewan shio-nya masing-masing. Mereka terlihat begitu gembira.

Selepas ujian semester, aku menerima telpon dari wali kelas anakku. Pertama-tama mendapatkan kabar kalau rangking sekolah anakku tetap 23.

Namun dia mengatakan ada satu hal aneh yang terjadi. Hal yang pertama kali ditemukannya selama lebih dari 30 tahun mengajar. Dalam ujian bahasa ada sebuah soal tambahan, yaitu SIAPA TEMAN SEKELAS YANG PALING KAMU KAGUMI & APA ALASANNYA.

Semua teman sekelasnya menuliskan nama : ANAKKU!

Mereka bilang karena anakku sangat senang membantu orang, selalu memberi semangat, selalu menghibur, selalu enak diajak berteman, dan banyak lagi.

Si wali kelas memberi pujian: “Anak ibu ini kalau bertingkah laku terhadap orang, benar-benar nomor satu”. Saya bercanda pada anakku, “Suatu saat kamu akan jadi pahlawan”.

Anakku yang sedang merajut selendang leher tiba-tiba menjawab :

“Bu guru pernah mengatakan sebuah pepatah, ketika pahlawan lewat, harus ada orang yang bertepuk tangan di tepi jalan.”

*“IBU... AKU TIDAK MAU JADI PAHLAWAN... AKU MAU JADI ORANG YANG BERTEPUK TANGAN DI TEPI JALAN”*

Aku terkejut mendengarnya. Dalam hatiku pun terasa hangat seketika. Seketika hatiku tergugah oleh anak perempuanku. Di dunia ini banyak orang yang bercita-cita ingin menjadi seorang pahlawan. Namun Anakku memilih untuk menjadi orang yang tidak terlihat. Seperti akar sebuah tanaman, tidak terlihat, tapi ialah yang mengokohkan.

Jika ia bisa sehat, jika ia bisa hidup dengan bahagia, jika tidak ada rasa bersalah dalam hatinya, MENGAPA ANAK-ANAK KITA TIDAK BOLEH MENJADI SEORANG BIASA YANG BERHATI BAIK & JUJUR…



Sumber copas: https://free.facebook.com/story.php?story_fbid=10207344846194949&id=1099761505&_rdr
Share:

Kisah Nyai dan Para Lelaki Kolonial yang Kesepian

SETIAWATI masih hapal riwayat hidup leluhurnya itu. Secara diam-diam, kisah tersebut selalu tersampaikan dari generasi ke generasi di kalangan keluarga besarnya, sebagai “kenangan pahit” yang tidak boleh terulang lagi. “Mungkin saat itu situasinya memang tak terelakan, takdir Tuhan harus berlaku demikian kepada nenek buyut saya,” ujar perempuan kelahiran Jakarta 55 tahun lalu tersebut.

Sarima, nama nenek buyut Setiawati, adalah seorang nyai. Itu adalah istilah yang ditujukan kepada seorang perempuan pribumi yang dijadikan pasangan hidup seorang lelaki kulit putih tanpa suatu ikatan pernikahan. “Sekalipun di Eropa moral Kristen menuntut penahanan nafsu seksual di luar pernikahan, ideologi di Hindia Belanda membolehkan seorang lelaki mencari jalan keluar bagi kebutuhan-kebutuhan seksnya…” tulis Tineke Hellwig dalamCitra Kaum Perempuan di Hindia Belanda.
Seorang lelaki Belanda dengan nyai dan anak mereka. Foto: KITLV
Terlebih, lanjut Tineke, anggapan umum saat itu menyebut bahwa iklim tropis serta makanan kaya bumbu pedas mendorong munculnya libido para lelaki Eropa yang bermukim di tanah Hindia Belanda. “Pendapat-pendapat tersebut seolah menjadi pembenar terjadinya praktek pergundikan dan pelacuran yang dilakukan mereka…” ujar doktor sastra Indonesia dari Universiteit Leiden, Belanda itu.
Hampir senada dengan penilaian Setiawati dan Tineke, penulis sejarah kolonial asal Belanda Reggie Baay, menyebut kuputusan seorang lelaki kolonial “mengambil” seorang nyai, merupakan gejala umum dan seolah sesuatu hal yang bisa diterima oleh banyak orang kala itu. Jika pada awal-awal kolonialisme terpancangkan di tanah Hindia Belanda sistem perbudakan adalah suatu keniscayaan, maka selanjutnya sistem pergundikan dengan seorang perempuan pribumi merupakan pemecahan masalah dari “rasa kesepian” para lelaki kulit putih lajang.
“Terdapat lebih dari setengah jumlah keseluruhan laki-laki Eropa di koloni yang hidup bersama seorang gundik pribumi dalam 25 tahun terakhir pada abad ke-19,” ungkap Reggie dalam Nyai dan Pergundikan di Hindia Belanda.
Terciptanya “konsep nyai” juga tidak terlepas dari perbedaan kelas: superioritas kulit putih atas kulit coklat, dominasi penjajah terhadap pihak terjajah. Situasi tersebut berkelindan dengan sikapnrimo yang dipelihara dengan setia oleh sebagian besar para bumiputera. Tidak usah jauh-jauh, sebagai contoh adalah kasus yang dialami oleh Sarima sendiri sekitar era 1920-an. Sebagai seorang buruh pemetik teh yang miskin di Garut, ia harus “pasrah” saat tuan adminsitratur “menginginkan dirinya”. Kendati saat itu, Sarima telah memiliki seorang suami.
“Dalam hal ini, pemberian sejumlah uang (kepada pihak keluarga perempuan atau suami perempuan tersebut) kerap dilakukan,” ujar Reggie.
Bahkan, pada kasus lain, seorang Njai juga bisa “dialihkan” kepada lelaki Eropa lain. Kasus-kasus seperti itu biasanya terjadi di tangsi-tangsi tentara. Seperti dialami oleh Marie (nyai yang berasal dari Purworejo) dan Enjtih (nyai yang berasal dari Cimahi). Pengalihan itu biasanya terjadi karena pihak lelaki sudah mulai jenuh atau akan dipindahtugaskan ke tempat lain. Lantas bagaimana status hukum anak-anak yang lahir dari hubungan sejenis itu?
Menurut Tineke Hellwig, sejatinya seorang nyai tidak memiliki hak apa pun, baik terhadap dirinya maupun atas anak-anak yang dilahirkannya. Karena itu, ia harus siap dicampakan oleh “pasangannya” termasuk tidak diberi imbalan apapun. “ Kadang-kadang sebelum mencampakan para nyai tersebut, para lelaki itu menyerahkan anak-anak mereka ke rumah yatim piatu,” ujar lektor kepala di University of British Columbia, Kanada tersebut.
Tentunya tidak semua nyai bernasib buruk. Ada juga di antara mereka yang dicintai betul-betul oleh pasangannya hingga (setelah mendapatkan beberapa anak) dinikahi dan didaftarkan sebagai istri yang sah secara hukum. Itu dialami oleh dua orang nyai bernama Gouw Pe Nio dan Djoemiha. Alih-alih diperlakukan sewenang-wenang, mereka malah hidup bahagia sampai mati bersama para lelaki Eropa tersebut.
Sumber; http://historia.id/budaya/kisah-nyai-dan-para-lelaki-kolonial-yang-kesepian
Share:

Asal Usul Tulisan Jawa | Ajisaka

Tulisan jawa memang sudah melegenda tidak saja di pulau jawa, tapi di luar jawa juga tulisan tersebut sangat terkenal. Tapi tahukah asal usul terciptanya tulisan jawa ?

Meskipun ada beberapa versi namun yang perlu kita ketahui adalah garis besar terciptanya tulisan jawa yang tak terlepas dari kisah Aji Saka.

Berikut ceritanya secara singkat:

Pada zaman dahulu kala hidup seorang kesatria bernama Aji Saka. Dia seorang tampan dan memiliki ilmu pengetahuan dan juga kanuragan yang sangat mumpuni. Aji Saka memiliki dua orang abdi atau pengikut bernama Dora dan Sembada. Mereka berdua setia menemani Aji Saka.

Suatu hari, Aji Saka ingin pergi berkelana menyebarkan ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Kemudian Aji SSaka pun pergi bersama dengan Dora. Sebelum pergi Ajisaka berpesan kepada Sembada untuk menjaga keris pusaka Aji Saka dan membawanya ke Pegunungan Kendeng.

“Sembada! Bawa keris pusaka ini ke Pegunungan Kendeng. Jagalah keris ini baik-baik dan jangan serahkan kepada orang lain sampai aku datang kembali untuk mengambilnya!” Aji Saka berpesan kepada Sembada.

“Baik, Tuan! Saya berjanji akan menjaga keris pusaka ini dan tidak akan memberikan kepada siapapun!”jawab Sembada.

Pada waktu itu di Jawa ada negeri yang terkenal makmur, aman, dan damai, yang bernama Negeri Medang Kamulan. Negeri itu dipimpin oleh Prabu Dewata Cengkar, seorang raja yang berbudi luhur dan bijaksana. Ia selalu memberikan yang terbaik untuk rakyatnya. Sehingga Negeri Medang Kamulan sejahtera. Namun semuanya berubah bermula ketika sang juru masak kerajaan teriris jarinya saat memasak. Sehingga potongan kulit dan darahnya pun masuk ke dalam sup yang akan disuguhkan kepada Sang Raja. Kemudian ia pun menyajikan masakannya kepada Prabu Dewata Cengkar. Prabu Dewata Cengkar langsung melahap habis sup tersebut ia merasa sup yang disajikan sangat lezat, kemudian ia mengutus patihnya yaitu Jugul Muda untuk menanyai juru masak kerajaan. Kemudian sang juru masak berkata bahwa ia tidak sengaja teriris jarinya menyebabkan kulit dan darahnya tercampur masuk ke dalam sup yang dihidangkan untuk Prabu Dewata Cengkar.

Setelah kejadian itu Prabu Dewata Cengkar memerintahkan kepada patihnya untuk menyiapkan seorang rakyatnya untuk disantap setiap harinya. Sejak itulah sang Prabu menjadi senang makan daging dan darah manusia dan sifatnya pun berubah menjadi bengis, jahat dan senang melihat orang menderita. Negeri Medang Kamulan pun perlahan berubah menjadi negeri yang sepi karena satu per satu rakyatnya disantap oleh rajanya, namun ada juga rakyat yang pergi mengungsi ke daerah lain.

Ajisaka bersama Dora saat itu tiba di Hutan yang sangat lebat. Ketika akan melintasi hutan tersebut, tiba-tiba Aji Saka melihat serombongan orang berduyun-duyun.

“Maaf, Pak! Kalau boleh kami tahu, Bapak dari mana dan kenapa berada di tengah hutan ini?” tanya Aji Saka.

Lelaki paruh baya yang mewakili rombongan pengungsi tersebut itu pun bercerita bahwa dia adalah pengungsi dari Negeri Medang Kamulan. Ia mengungsi karena raja di negerinya yang bernama Prabu Dewata Cengkar setiap hari mengincar rakyatnya untuk di hidangkan. Karena takut menjadi mangsa sang Raja, lelaki itu kabur dari negeri itu.

Aji Saka dan Dora tersentak kaget mendengar cerita laki-laki tua yang baru saja ditolongnya itu.

“Bagaimana itu bisa terjadi, Pak?” tanya Aji Saka dengan heran.

“Begini, Tuan! Kegemaran Prabu Dewata Cengkar memakan daging manusia bermula ketika seorang juru masak istana teriris jarinya, lalu potongan kulit jari dan darahnya itu masuk ke dalam sup yang disajikan untuk sang Prabu. Rupanya, beliau sangat menyukainya. Sejak itulah sang Prabu menjadi senang makan daging manusia dan sifatnya pun berubah menjadi bengis,” jelas lelaki itu.

Mendengar pejelasan itu, Aji Saka dan abdinya memutuskan untuk pergi ke Negeri Medang Kamulan. Ia ingin menolong rakyat Medang Kamulan dari kebengisan Prabu Dewata Cengkar. Setelah sehari semalam berjalan keluar masuk hutan, menyebarangi sungai, serta menaiki dan menuruni bukit, akhirnya mereka sampai di Kerajaan Medang Kamulan. Ajisaka pun melihat keadaan negeri Medang Kamulan yang sunyi dan menyeramkan itu. Semua penduduk pergi meninggalkan negeri itu.

“Apa yang harus kita lakukan, Tuan?” tanya Dora.

“Kamu tunggu di luar saja! Biarlah aku sendiri yang masuk ke istana menemui Raja bengis itu,” jawab Aji Saka dengan tegas.

Dengan gagahnya, Aji Saka berjalan menuju ke istana. Suasana di sekitar istana tampak sepi. Hanya ada beberapa orang pengawal yang sedang mondar-mandir di depan pintu gerbang istana.

“Berhenti, Anak Muda!” cegat seorang pengawal ketika Aji Saka berada di depan pintu gerbang istana.

“Kamu siap dan apa tujuanmu kemari?” tanya pengawal itu.

“Saya Aji Saka dari Medang Kawit ingin bertemu dengan sang Prabu,” jawab Aji Saka.

“Hai, Anak Muda! Apakah kamu tidak takut dimangsa sang Prabu?” sahut seorang pengawal yang lain.

“Ketahuilah, Tuan-Tuan! Tujuan saya kemari memang untuk menyerahkan diri saya kepada sang Prabu untuk dimangsa,” jawab Aji Saka.

Para pengawal istana terkejut mendengar jawaban Aji Saka. Tanpa banyak tanya, mereka pun mengizinkan Aji Saka masuk ke dalam istana. Saat berada di dalam istana, ia mendapati Prabu Dewata Cengkar sedang murka, karena Patih Jugul tidak membawa mangsa untuknya. Tanpa rasa takut sedikit pun, ia langsung menghadap kepada sang Prabu dan menyerahkan diri untuk dimangsa.

“Ampun, Gusti Prabu! Hamba Aji Saka. Jika Baginda berkenan, hamba siap menjadi santapan Baginda hari ini,” kata Aji Saka.

Betapa senangnya hati sang Prabu mendapat tawaran makanan. Dengan tidak sabar, ia segera memerintahkan Patih Jugul untuk menangkap dan memotong-motong tubuh Aji Saka untuk dimasak. Ketika Patih Jugul akan menangkapnya, Aji Saka mundur selangkah, lalu berkata:

“Ampun, Gusti! Sebelum ditangkap, Hamba ada satu permintaan. Hamba mohon imbalan sebidang tanah seluas serban hamba ini,” pinta Aji Saka sambil menunjukkan sorban yang dikenakannya.

Permintaan itu dikabulkan oleh Sang Prabu. Ajisaka kemudian meminta Prabu Dewata Cengkar menarik salah satu ujung sorbannya. Ajaibnya, sorban itu setiap diulur, terus memanjang dan meluas hingga meliputi seluruh wilayah Kerajaan Medang Kamulan. Karena saking senangnya mendapat mangsa yang masih muda dan segar, sang Prabu terus mengulur serban itu sampai di pantai Laut Selatan. Kemudian Ajisaka mengibaska sorban tersebut, hal ini membuat Prabu Dewatacengkar terlempar ke laut. Wujud Prabu Dewata Cengkar lalu berubah menjadi buaya putih.

Mengetahui kabar tersebut, seluruh rakyat Medang Kamulan kembali dari tempat pengungsian mereka. Aji Saka kemudian dinobatkan menjadi Raja Medang Kamulan menggantikan Prabu Dewata Cengkar dengan gelar Prabu Anom Aji Saka. Ia memimpin Kerajaan Medang Kamulan dengan arif dan bijaksana, sehingga keadaan seluruh rakyatnya pun kembali hidup tenang, aman, makmur, dan sentausa.

Setelah beberapa hari, Ajisaka menyuruh Dora pergi ke Pulau Majethi untuk ngambil keris pusaka yang dijaga oleh Sembada.

“Dora! Pergilah ke Pegunungan Kendeng untuk mengambil keris pusakaku. Katakan kepada Sembada bahwa aku yang menyuruhmu,” kata Ajisaka.

“Baik Tuan!” jawab Dora seraya memohon diri.

Setelah berhari-hari berjalan, sampailah Dora di Pegunungan Gendeng. Ketika kedua sahabat tersebut bertemu, mereka saling rangkul untuk melepas rasa rindu. Setelah itu, Dora pun menyampaikan maksud kedatangannya kepada Sembada.

“Sembada, sahabatku! Kini Tuan Ajisaka telah menjadi raja Negeri Medang Kamulan. Beliau mengutusku kemari untuk mengambil keris pusakanya untuk dibawa ke istana,” ungkap Dora.

“Tidak, sabahatku! Tuan Ajisaka berpesan kepadaku bahwa keris ini tidak boleh diberikan kepada siapa pun, kecuali beliau sendiri yang datang mengambilnya,” kata Sembada dengan tegas.

Sembada yang patuh pada pesan Ajisaka tidak memberikan keris pusaka itu ke Dora. Dora tetap memaksa agar pusaka itu segera diserahkan. Akhirnya keduanya bertarung tanpa ada yang mau mengalah. Mereka bersikeras mempertahankan tanggungjawab masing-masing dari Aji Saka. Mereka bertekad lebih baik mati daripada mengkhianati perintah tuannya. Akhirnya, terjadilah pertarungan sengit antara kedua orang bersahabat tersebut. Namun karena mereka memiliki ilmu yang sama kuat dan tangguhnya, sehingga mereka pun mati bersama.

Sementara itu, Aji Saka sudah mulai gelisah menunggu kedatangan Dora dari Pegunung Gendeng.

“Apa yang terjadi dengan Dora? Kenapa sampai saat ini dia belum juga kembali?” gumam Aji Saka.

Sudah dua hari Aji Saka menunggu, namun Dora tak kunjung tiba. Akhirnya, ia memutuskan untuk menyusul ke Pegunungan Gendeng seorang diri. Betapa terkejutnya ia saat tiba di sana. Ia mendapati kedua pengikut setianya Dora dan Sembada telah tewas. Mereka tewas karena ingin membuktikan kesetiaannya kepada tuan mereka. Untuk mengenang kesetiaan kedua abdinya tersebut, Aji Saka menciptakan aksara Jawa atau dikenal dengan istilah Dhentawyanjana yang bunyinya :

(goes)

Share:

Fans Page