Hening dan Sepi

Lepas Dzuhur handphone berdering, partanda ada panggilan masuk. Betul saja karena hari itu hari sabtu di mana sang bidadari kecilku ada jadwal nelpon.

"Assalamualaikim ma..."

"Waalaikum salam," 

Obrolan kecil antara mama dan putrinya yang jauh di tanah seberang guna menunaikan tugasnya.

Walau aku hanya nguping, tapi terobati sudah rasa kangen. Rasa kangen seorang ayah kepada putrinya. Bukan tanpa alasan aku hanya nguping karena rasa kangen ini membuat aku gagap dan kwlu dalam berbicara

"Mama ga kangenlah," pernah sekali waktu putri kecilku bertanya pada mamanya.

"Ga ada seorang ibu yang ga kangen sama putrinya," sontak berkaca-kaca mata mamanya walau sambil tertawa.

Tidak ada hal-hal penting dalam pembicaraan, hanya obrolan kesana kemari sebagai obat kangen semata.

Hari ini hari Rabu, di mana jadwal untuk nelpon. Dalam satu minggu ada dua kesemoatan untuk bisa nelpon yaitu Sabtu dan Rabu

Tapi lama ditunggu tidak kunjung menelpon. Mungkin putri kecilku sedang sibuk di awal semester 1.

Semangat nak, ayah mendukungmu.

Sampit, 23 Juni 2021

Share:

Sampit Palangkaraya


Waktu menunjukan pukul 19.00 WIB, yang ditunggupun datang. Sebuah mobil Avanza hitam merapat depan rumah.

"Berangkat sekarang ?" sapa sang sopir menghampiri.

"Ya"

Semua tas yang sudah siap di ruang tamu dikeluarkan dan dimasukan ke dalam mobil. Ada 4 tas bawaan utama yang dibawa dan tas jinjing. 

Sementara itu isak tangis haru dan sedih mengantarkan keberangkatan sahabat sejati. Ya,  perjalanan ini adalah keberangkatan untuk mengantarkan putri tercinta kami yang akan menuntut ilmu di luar pulau. Tentu rasa kehilangam bisa kita rasakan, setelah 3 tahun bersama, bercengkerama dan belajar bersama. Tapi itulah kehidupan, ada datang ada pergi silih berganti.

Tepat pukul  19.30 WIB mobil travel mulai merangkak maju menuju ke Bandara Tjilik Riwut Palangkaraya. Memang ada beberapa pilihan angkutan untuk menuju Palangkaraya. Bus malam atau travel, dan untuk kenyamanan perjalanan akhirnya menggunakan jasa angkutan trevel. 

Liak liuk laju kendaraan seirama dengan musik yamh diputar menemani heningnya malam. Pop tahun 80 an Indonesia mampu mengembalikan ingatan masa lalu. Menerawang akan masa kecil yang pada waktu tahun 80 an sudah "memberontak" untuk bisa merantau walaypun masib  dalam skala kabupaten.

Pukul 21.00 WIB sampailah di KM 51 Kereng Pangi, istirahat sejenak sekedar melepas lelah dan menikmati teh hangat dan lalapan ayam. Setengah jam cukup untuk beristirahat.


Melanjutkan perjalanan pada 21.30 WIB. Untuk selanjutnya tidak tahan dengan serangan kantuk hingga tertidur dalam lelapnya keheningan. Hingga pada akhirnya terjaga di depan pintu Bandara Tjilik Riwut Palangkaraya pada pukul 12.30 WIB. [goes]
Share:

Fans Page