Lawan Hoax Untuk Pemilu 2019

Perhelatan akbar sebentar lagi sampai pada titik puncaknya. Pemilu 2019 yang akan di laksanakan tinggal menghitung hari. Tepatnya pada 17 April pesta demoktasi terbesar di Indonesia akan dilangsungkan.

Pemilihan anggota Legislatif baik DPR RI, DPD,  DPRD Tingkat I, DPRD Tingkat II dan Pemilihan Presiden akan dilaksanakan dalan satu waktu yaitu pada tanggal 17 April tersebut.

Isu yang menarik dalam pemilihan Presiden dilansir dari laman BeritaSatu.Com, ada dua kelompok besar yaitu kelompok yang merasa diri Islamis dan kelompok Islam.‎ Kelompok Islamis atau agamais adalah yang ingin menerapkan syariat Islam di Indonesia dan yang ingin menggunakan hukum serta simbol Islam di negara ini. Sementara kelompok Islam adalah yang hanya ingin menanamkan nilai-nilai Islam, nilai kebersamaan yang dipadukan nilai-nilai lokal.

Kelompok Islamis yang selama ini sangat keras dan radikal dalam menerapkan ajaran-ajaran Islam. Mereka ingin hukum Islam sebagai sumber hukum utama di republik ini. Sementara kelompok ‎Islam adalah kelompok moderat. Mereka menggunakan nilai-nilai Islam yang menerima nilai-nilai lokal yang ada selama ini.

Terlepas dari itu semua marilah kita berwawasan luas untuk bisa menyaring segala berita yang berkembang terutama berita-berita yang berunsur HOAX. Karena bukan saja merugikan diri sendiri tapi juga merugikan dalam berbangsa dan bernegara, terutama yang berdampak langsung pada pemilu  17 April 2019.

Pemilu yang bersih tentunya menjadi harapan kita semua, harapan untuk persatuan dan kemajuan bangsa. Meskipun kita tidak sama, tapi kita harus bekerja sama. [goes]

Gambar: kataindonesia.com
Share:

Haul ke 14 Guru Sekumpul

Lebih kurang 840 manusia tumpah ruah di halaman Masjid Nurul Iman Jalan Pelita Sampit. Rombongan Haul ke 14 Guru Sekumpul ini tiba di Sampit kembali yang terbagi dari 21 rombongan bus pada hari ini Senin (11/03) pada pukul 16.00 WIB. Selama Dua hari dua malam mereka meninggalkan Kota Sampit guna menghadiri haul akbar ke 14 Guru Sekumpul di Martapura Banjarmasin Kalimantan Selatan.

 (Rombongan bus yang baru tiba. Doc Bagus Sugiarto)

Tua muda, anak-anak dan kakek nenek terlihat wajah-wajah kelelahan yang tersirat di raut muka mereka. Tapi kepuasan batin yang pasti mereka rasakan. Kepuasan batin bisa menghadiri haul ke-14 ulama kharismatik Muhammad Zaini bin Abdul Ghani al-Banjari atau yang lebih dikenal dengan nama Guru Sekumpul.

(Posko kesehatan diperuntukan bagi jamaah. Doc Bagus Sugiarto)
 
Terdapat juga posko kesehatan yang diperuntukan bagi jamaah yang baru tiba untuk mengantisipasi gangguan kesehatan yang diderita jamaah. Sambil menunggu jemputan dari keluarga, beberapa jamaah memanfaatkan posko layanan tersebut untuk sekedar cek tekanan darah atau gangguan yang lain.

(Walau badan lelah tapi tetap ceria. Doc Bagus Sugiarto)

Siapakah Guru Sekumpul ?

Guru Sekumpul dilahirkan pada malam Rabu 11 Februari 1942 (27 Muharram 1361 Hijriyah) di desa Dalam Pagar, Martapura Timur, Kabupaten Banjar dari pasangan suami-istri Abdul Ghani bin Abdul Manaf bin Muhammad Seman dengan Hj. Masliah binti H. Mulia bin Muhyiddin.

Beliau sering disebut-sebut sebagai Habib keturunan Rasulullah, padahal beliau sendiri tidak pernah menambahkan dibelakang nama beliau dengan fam tertentu. Lalu dari mana isyu tersebut ? Mari kita telusuri nasab beliau.
  1. K H. Muhammad Zaini
  2. Abdul Ghani
  3. H Abdul Manaf
  4. Muhammad Seman
  5. H M. Sa’ad
  6. H. Abdullah
  7. Mufti H. M. Khalid
  8. Khalifah H. Hasanuddin
  9. Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari

Sampai disini, tidak ada perbedaan karena memang diingat, dicatat, dan dijaga dengan baik oleh Guru Sekumpul serta keluarga beliau. Perbedaan terjadi ketika kita meneliti nasab dari Sekh Muhammad Arsyad Al Banjari yang merupakan tokoh Islam terbesar di bumi Banjar.

Ada beberapa versi catatan nasab Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari, ada yang mengatakan lima versi, namun yang ditemukan hanya dua dan itupun masih dalam versi yang sama karena yang kedua tidak jauh beda dengan yang pertama, hanya ketinggalan 2 orang, mungkin kesalahan penyalinan saja.

Pertama, catatan dari 3 kitab, yaitu:  Syajaratul Arsyadiyah, Syeikh Muhammad Arsyad Al Banjari Pengarang Sabilal Muhtadin, dan Maulana Syeik Muhammad Arsyad Al Banjari. Yaitu sebagai beikut:

  1. Muhammad Arsyad Al Banjari
  2. Abdullah
  3. Abu Bakar
  4. Sultan Abdurrasyid Mindanao
  5. Abdullah
  6. Abu Bakar Al Hindi
  7. Ahmad Ash Shalaibiyyah
  8. Husein
  9. Abdullah
  10. Syaikh
  11. Abdullah Al Idrus Al Akbar (datuk seluruh keluarga Al Aidrus)
  12. Abu Bakar As Sakran
  13. Abdurrahman As Saqaf
  14. Muhammad Maula Dawilah
  15. Ali Maula Ad Dark
  16. Alwi Al Ghoyyur
  17. Muhammad Al Faqih Muqaddam
  18. Ali Faqih Nuruddin
  19. Muhammad Shahib Mirbath
  20. Ali Khaliqul Qassam
  21. Alwi
  22. Muhammad Maula Shama’ah
  23. Alawi Abi Sadah
  24. Ubaidillah
  25. Imam Ahmad Al Muhajir
  26. Imam Isa Ar Rumi
  27. Al Imam Muhammad An Naqib
  28. Al Imam Ali Uraidhy
  29. Al Imam Ja’far As Shadiq
  30. Al Imam Muhammad Al Baqir
  31. Al Imam Ali Zainal Abidin
  32. Al Imam Sayyidina Husein
  33. Al Imam Amirul Mu’minin Ali Karamallah wajhah wa Sayyidah Fatimah Az Zahra
  34. Rasulullah SAW
Kedua, terdapat pada kitab yang dikarang oleh seseorang tanpa nama dengan judul  Silsilah Siti Fatimah, sebagai berikut:
  1. Muhammad Arsyad Al Banjari
  2. Abdullah
  3. Abu Bakar
  4. Abdurrasyid
  5. Abdullah al-Idrus al-Magribi
  6. Abu Bakar al-Hindi
  7. Ahmad
  8. Husin
  9. Abdullah
  10. Syaikh
  11. Abdullah Al-Idrus
  12. Abu Bakar as-Sakrani
  13. Abdurrahman as-Saqafi
  14. Maulana Ad-Duwailah
  15. Ali
  16. Alwi
  17. al-Faqih al-Muqaddam Muhammad
  18. Ali Khala Qasim
  19. Alwi
  20. Muhammad
  21. Alwi
  22. Abdullah
  23. Ahmad al-Muhajir lillah
  24. Isa  an-Naqib
  25. Muhammad an-Naqib
  26. Ali al-Arid
  27. Ja’far  as-Sadiq
  28. Muhammad al-Baqir
  29. Ali Zainal Abidin
  30. Sayyidina Husin
  31. Sayyidina Ali dan  Sayyidina Fatimah az-Zahra
  32. Sayyidina Muhammad SAW
Kedua versi silsilah/nasab di atas sama saja, hanya saja pada silsilah kedua ada yang terlewatkan dan tidak tahu apakah itu kesalahan M. Rusydi  yang menyalin  atau memang dari kitab Silsilah Siti Fatimah-nya. Pada catatan nasab yang kedua tidak ada  Ali Faqih Nuruddin dan Muhammad Shahib Mirbath yang pada nasab pertama berada di nomor 18 dan 19.

Perbedaan lainnya terdapat pada penulisan nama. Ada dua nama yang berbeda namun orang tua (bin)nya sama, yaitu Ubaidillah Bin Ahmad Al Muhajir  dan Isa Arrumi Bin Muhammad Annaqib
  1. Pada catatan nasab pertama tertulis Ubaidillah (nomor 24) sementara pada catatan nasab yang kedua tertulis Abdullah (nomor 22)
  2. Pada catatan nasab pertama tertulis  Isa Arrumi (nomor 26) sementara pada catatan nasab yang kedua tertulis Isa an-Naqib (nomor 24)
Disini tidak bisa mengetahui secara pasti apakah kedua nama itu orang yang sama, hanya kekeliruan penulisan saja atau memang orang yang berbeda.

Perbedaan-perbedaan pada catatan nasab tersebut mungkin hanya kesalahan penyalinan saja, yang jelas kedua nasab tersebut membenarkan bahwa Muhammad Arsyad Al Banjari adalah seorang keturunan Rasulullah, yang secara otomatis menyatakan bahwa Guru Sekumpul juga seorang habib ber fam Al-Idrus (Al-Aydrus).

Lalu mengapa Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari tidak menyertakan fam Al-Idrus (Al-Aydrus) dibelakang nama beliau?. Keterangan langsung dari Guru Sekumpul dalam pengajian beliau, bahwa penyembunyian Nasab itu bertujuan untuk menghindari penjajah Belanda yang katanya pada waktu itu mengincar setiap orang yang didirinya mengalir darah Rasulullah. [goes]

Sumber:
  1. Liputan di Masjid Nurul Iman
  2. https://web.facebook.com/notes/majlis-taklim-miftahus-surur/biografimanagib-abah-guru-sekumpul-al-alimul-allamah-khmzaini-bin-abdul-ghani/1663692550324555/?_rdc=1&_rdr
  3. http://putramartapura.blogspot.com/2012/03/silsilah-nasab-guru-sekumpul-dan.html
Share:

Fans Page